Jakarta — Kasus penipuan yang berkaitan dengan video call scam (VCS) semakin sering terjadi dan menimbulkan banyak korban di berbagai daerah. Modus ini biasanya dilakukan oleh pelaku dengan cara menghubungi korban melalui media sosial atau aplikasi pesan, kemudian memancing korban untuk melakukan panggilan video yang bersifat pribadi.
Setelah mendapatkan rekaman dari panggilan tersebut, pelaku kemudian mengancam korban dan meminta sejumlah uang agar rekaman tidak disebarkan. Praktik ini termasuk bentuk pemerasan digital yang memanfaatkan kelengahan pengguna internet.
Modus Penipuan yang Semakin Beragam
Menurut pengamat keamanan digital, pelaku biasanya menggunakan akun palsu dan menyamar sebagai orang yang dikenal atau orang baru yang mencoba berkenalan secara online. Setelah korban merasa percaya, pelaku mengajak melakukan video call dan kemudian memanfaatkan situasi tersebut untuk menekan korban.
Kasus seperti ini sering terjadi melalui berbagai platform komunikasi digital seperti WhatsApp, Telegram, maupun media sosial lainnya.
Dampak bagi Korban
Korban VCS sering mengalami tekanan psikologis karena merasa takut atau malu jika rekaman tersebut disebarkan. Dalam banyak kasus, pelaku juga terus mengancam korban untuk mengirimkan uang secara berulang.
Pakar keamanan siber menyarankan agar korban tidak langsung memenuhi permintaan pelaku dan segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang.
Tips Menghindari Penipuan Online
Untuk mengurangi risiko menjadi korban penipuan digital, masyarakat diimbau untuk:
-
Tidak mudah menerima panggilan video dari orang yang tidak dikenal
-
Menghindari berbagi informasi pribadi kepada orang asing di internet
-
Mengaktifkan pengaturan privasi pada akun media sosial
-
Segera melapor jika menemukan indikasi pemerasan online
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan digital, diharapkan kasus penipuan seperti ini dapat ditekan dan pengguna internet dapat beraktivitas dengan lebih aman di dunia maya.
