Jakarta – Di tengah tekanan ekonomi, krisis lingkungan, dan kelelahan akibat budaya flexing di media sosial, Generasi Z di Indonesia dan global semakin memilih jalan hidup sederhana. Tren ini terlihat dari maraknya gerakan minimalis, frugal living, deinfluencing, hingga istilah baru seperti YONO (You Only Need One) yang viral di kalangan anak muda.
Banyak Gen Z yang dulunya tergoda tren YOLO (You Only Live Once) dengan belanja impulsif, kini beralih ke YONO—fokus pada kebutuhan esensial, mengurangi barang tak perlu, dan memprioritaskan kualitas hidup daripada kuantitas kepemilikan. Menurut laporan dan survei terkini seperti Indonesia Millennial and Gen-Z Report serta tren global 2025–2026, sekitar 67% Gen Z di Indonesia mulai menerapkan prinsip “less is more”, dengan thrifting, preloved, dan konsumsi sirkular menjadi pilihan utama.
“Kalau dulu flexing barang branded di IG itu keren, sekarang malah terasa outdated. Lebih bangga kalau bisa hidup hemat, punya tabungan, dan nggak terjebak utang kartu kredit,” ujar seorang content creator Gen Z di Jakarta yang aktif mempromosikan deinfluencing—gerakan menolak godaan tren mahal dan mendorong konsumsi bijak.
Fenomena ini didorong oleh beberapa faktor utama:
-
Tekanan ekonomi — Inflasi, biaya hidup tinggi, dan ketidakpastian pekerjaan membuat Gen Z lebih sadar finansial. Banyak yang menerapkan frugal living bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk bertahan.
-
Kesadaran lingkungan — Gen Z melihat konsumsi berlebih sebagai penyumbang sampah dan kerusakan planet, sehingga beralih ke gaya hidup berkelanjutan seperti repair & reuse, thrifting, dan mindful consumption.
-
Kelelahan media sosial — Paparan konstan terhadap gaya hidup mewah influencer justru memicu antipati. Banyak yang memilih digital minimalism, mengurangi scrolling, dan fokus pada pengalaman nyata daripada validasi online.
-
Pergeseran nilai sukses — Hustle culture tanpa henti mulai ditinggalkan. Gen Z lebih memilih career minimalism—kerja stabil dengan batas sehat, side hustle secukupnya, dan ruang untuk hobi serta istirahat.
-
Tren global yang menular — Dari “underconsumption core” di TikTok hingga anti-konsumerisme di Barat, Gen Z Indonesia ikut mengadopsi dengan sentuhan lokal seperti memilih produk UMKM, second-hand, atau DIY.
Di media sosial, hashtag seperti #Deinfluencing, #FrugalLivingID, dan #HidupSederhana semakin ramai. Banyak anak muda berbagi tips mengelola keuangan, menolak FOMO, serta menikmati slow living—seperti jalan kaki pagi, masak sendiri, atau sekadar nongkrong tanpa belanja.
Meski begitu, tidak semua Gen Z sepenuhnya anti-konsumtif. Ada yang tetap “self-reward” untuk pengalaman bermakna seperti traveling hemat atau konser, tapi dengan perhitungan matang—bukan lagi belanja sembarangan.
Para pakar melihat tren ini sebagai sinyal positif: Gen Z bukan hanya generasi digital, tapi juga generasi yang belajar dari krisis, menolak jebakan konsumtif, dan mencari makna hidup yang lebih dalam. Hidup sederhana bukan berarti miskin, melainkan kaya dalam kebebasan, kesehatan mental, dan dampak positif bagi lingkungan.
